Kamis, 21 Maret 2013

puisi ku


==°°°KELAM°°°==
Aku…
Berjalan menerobos semak belukar
Menelusuri hari kelam yang tertutup awan hitam
Langkahkan kaki yang penuh goresan luka mengering
Burung-burung terbang kembali ke sarangnya
Bunga-bunga merunduk menyembunyikan keindahannya

Aku…
Tak ada lagi yang melihat diriku
... Matanya telah tertutup debu
Bidadari hitam yang tersenyum pada dunia
Tanpa keraguan di hatinya
Mengayunkan langkahnya mendekatiku
Melemparkan debu di atas deritaku

Aku…
Menggeliat meronta berteriak
Memanggil keadilan yang tak kunjung terlihat
Menanti datangnya terang yang telah lama menghilang
Lelah letih diri ini
Menghirup angin kepalsuan
Harap yang tak jua berbalas
Akankah ada segores senyum di wajahku?
Menutup hari yang kelam

[••^^>SEJARAH TAKKAN TERULANG<^^••]

Sengaja kubiarkan kenangan lalu terus membelai asaku
Karena ia adalah penabuh mimpi-mimpi nan usang
Kubiarkan pula ilusiku mendera khayal
Agar seribu dendam mencinta tak lagi meronta dalam angan

Pancaran yang ku kira matahari
Namun ternyata hanyalah bias pelangi dari setetes embun
Indah namun hanya sesaat
... Perlahan lenyap di kebiruan cakrawala nan luas
Mahligai indah yang pernah tercipta walau sesaat
Kan ku ukir dan ku abadikan di dinding hati dan jiwaku

Meski kusadar...
Segala kenangan itu tak mungkin dapat terulang
Kenangan biarlah menjadi memory dalam catatan sejarah perjalanan hidupku
Semoga ia pula yang kan menjadi cambuk
Untuk menggapai kembali asa yang pernah tercecer di tepian cinta yang beku

Ruang rindu yang terbatas waktu
Kan ku hadang pada setiap rasa yang meronta dari bilik kalbuku
Agar keindahan yang tercampak
Tetap bersamayam dan bertahta di istana sanubariku….


==^°•• CINTAQ DIHIANATI ••°^==

Runtuhnya lembaga hati
diderai air mata sayu
Mendesis lingkaran satu kata
tak terbalas

Sakit…
... Dalam lengkungan jeruji pengkhianatan
Bagaikan tubuh yang terombak
Terpisah melayang hampa

Perih…
Dalam sulurnya benih dusta
Bagaikan debuman cabiknya hati
Berlagu sendu

Luka…
Dalam rongrongan isakan cinta
Tersendat dalam penyesalan
Tercerai dari penantian
Itulah yang aku rasakan
Di kala cintaku dikhianati…


Sabtu, 16 Maret 2013

artikel islam

Seorang guru, 2 buah kapur & Kefakiran Yg Terselubung | Inspirasi Islam


Sadarkah kita ???

Seorang Guru tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus.
Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham ....."